Agama

Study Pemikiran Ayatulloh Ruhulloh Khomaeni dan Revolusi Iran

Agama Sebagai Ideologi

Admin | Rabu, 30 Desember 2015 - 07:34:00 WIB | dibaca: 506 pembaca

Oleh : Lukman Hakim
Perubahan demi perubahan besar senantiasa terjadi dalam sejarah panjang bangsa Persia (Iran). Revolusi Iran 1979 hanyalah salah satu tonggak penting dalam sejarah bangsa yang dikenal berperadaban tinggi itu. Revolusi Iran telah melahirkan sebuah kelompok konservatif, yang tidak terlalu mendukung ide-ide pembaruan dan keterbukaan secara radikal. Kiranya menarik memperhatikan dialektika dan pasang surut perubahan Iran. Salah satu tokoh Revolusi Iran yang paling menonojol adalah Ayatulloh Ruhulloh Khomaeni.

Ayatulloh Khomaeni adalah teolog Islam pertama yang mengembangkan dan mempraktekkan gagasan pemerintahan Islamnya di dunia moderen. Sebagai praktisi politik dia senantiasa menarik untuk dicermati. Bagi banyak orang dia pembela iman, orang yang mengembalikan kekuatan dan puritanisme Islam di tengah-tengah dekadensi, korupsi dan hegemoni Barat. Bagi yang lainnya dia merupakan sisi gelap Islam, khalifah ortodoksi agama. Didikan Khomaeni diwaktu kecil, pendidikannya sebagai teolog, terhinakannya ulama oleh pemerintahan Pahlevi, matinya Islam sebagai kekuatan dunia, semuanya itu berpengaruh pada pemikirannya.

BIOGRAFI
Ruhulloh Khomaeni lahir pada 24 Oktober 1902 di Khomaen, sebuah dusun kecil di Iran Tengah. Keluarga Khomaeni adalah dari keluarga Sayyid Musawi, keturunan Nabi melalui jalur ke tujuh Syi'ah, Musa Al-Kazhim. Kakek Ruhulloh, Sayyid Ahmad Musawi Hindi adalah keluarga ulama terkemuka. Sayyid Ahmad Musawi menikah dengan Sakinah di Khomaen. Pasangan ini dikaruniai empat anak antara lain Musthafa yang lahir pada 1856. Musthafa belajar di Najaf, di bawah bimbingan Mirza Hasan Syirazi, kemudian pada 1894 kembali ke Khomaen. Di sana dia menjadi ulama dan dikaruniai enam anak.Ruhulloh adalah yang bungsu dan satu-satunya yang panggilannya adalah Khomaeini. Musthafa dibunuh tujuh bulan setelah lahirnya Ruhulloh.

Tak lama kemudian Iran dilanda serangkaian protes menentang kemapanan yang dilancarkan oleh ulama, pedagang Bazari dan kaum pembaru berpendidikan moderen. Periode bergolak ini tak pelak lagi meninggalkan kesan pada Ruhulloh muda, kendatipun dia disayangi oleh Sahebeh, bibinya yang tinggal bersama keluarga Ruhulloh. Sahebeh memiliki mental dan pikiran yang kuat. Kehidupan Ruhulloh didominasi oleh Sahebeh dan ibunya. Keduanya meninggal ketika Ruhulloh berusia enam belas tahun.
Menjelang dewasa Ruhulloh mulai belajar tata bahasa Arab kepada saudaranya, Murtaza yang belajar bahasa Arab dan teologi di Isfahan. Ruhulloh punya bakat khusus dalam menulis dan menyususn syair Persia. Dia banyak belajar syair klasik dengan penekanan pada syair moral dan etika.

REVOLUSI IRAN
Perhatian Khomaeni pada mistisisme dan non-formitasnya, tidak menghalangi perhatiannya kepada apa yang sudah berlangsung di dalam negeri pada umumnya. Pada periode pasca Syah, Khomaeni mengeluarkan pandagan mengenai pemerintahan Reza Syah dalam karya politik pertamanya Kasyaf Al-Asrar (menyikap rahasia) pada tahun 1942. Kata Khomaeni pemerintahan baru sah bila menerima aturan Alloh. Aturan Alloh artinya adalah menerapkan syariat. Segenap hukum yang bertentangan dengan syariat harus digugurkan, karena hanya hukum Allohlah yang sah dan tak berubah, meskipun zaman telah berubah. Adapun bentuk pemerintah itu sendiri tak jadi soal selama hukum Islam diterapkan.

Pada Januari 1963, Qum terjadi ledakan kekecewaan dan amarah ulama.Benturan dan kerusuhan berdarah yang terjadi merupakan tantangan bagi Syah,dan akhirnya menyebabkan ditahan dan dibawanya Khomaeni ke Teheran, sebab Khomaeni tidak lagi dipandang sebagai salah seorsang ayatulloh terkemuka semata, namun juga sebagai seorang ayatulloh yang pemimpin politik. Akibat sikap kritisnya terhadap pemerintahan Syah akhirnya ia dibuang. Kepergian Khomaeni pertama ke Turki dan kemudian ke Irak, bagi syah berarti hilangnya rintangan utama pembaruannya, dan juga hilangnya sumber penting penentangan terhadap pemerintahannya.

Posisi pemerintahan Syah yang kuat sejak 1960-an sampai 1970-an mulai goyah ketika pada tahun 1977 Syah mencopot perdana menterinya yang loyal, Amir Abbas Hoveyda yang telah mengabdi selama dua belas tahun digantikan oleh seorang yang lebih besemangat Jamsid Amouzigar. Pada bulan Oktober ulama dikejutkan dengan meninggalnya Musthafa putera sulung Khomaeni secara misterius (diduga dibunuh oleh agen Syah). Peristiswa ini membuat Khomaeni banyak diliput media.

Munculnya artikel yang menghina Khomaeni pada 6 Januari 1978 di harian Ettela'at, memicu berbagai demonstrasi dan bentrokan dengan tentara di Qum. Segera saja setiap konfrontasi dan korban menyulut pergerakan di kota-kota lain. Ketika api sudah menyebar, Syah menjadi sasaran penghinaan. Merenungi perasaan nasional, dalam wawancara dengan Le Monde, Khomaeni menyatakan bahwa dinasti Pahlevi harus ditumbangkan. Khomaeni menyerukan langsung kepada tentara untuk bergabung dengan gerakan rakyat.

Pada periode ini Khomaeni tak mendiskusikan teori wilayat faqihnya, apalagi pandangan wilayah mistisnya. Khomanei hanya menyebut peranan ulama sebagai pengawas. Bagi kubu Khomaeni hanya ada dua sasaran lagi yang perlu dicapai : perginya Syah dan kembalinya Khomaeni. Tujuan pertama semakin dekat ketika pada 10 dan 11 Desember 1978 dua hari agama yang penting yaitu Tasu'a dan Asyura, 9 dan 10 Muharram berjuta-juta orang berbaris di Teheran menuntut perginya Syah dan kembalinya Khomaeni.

Khomaeni mengambil prakarsa menerbitkan rencana aksi tiga poinnya yang sudah diedarkan di kalangan kandidat Dewan Revolusi dan pemerintah provisional (sementara). Ketika mengungkap rencananya kepada rakyat Iran, Khomaeni mengatakan bahwa "….. berdasarkan hak-hak agama dan kepercayaan kapada saya dari mayoritas mutlak rakyat, sebuah dewan yang bernama Dewan Revolusi Iran telah terbentuk". Pada 16 Januari 1979 Syah yang sedih dan sakit-sakitan berkemas meninggalkan negerinya dan tak pernah kembali. Dua minggu kemudian pada 1 Februari 1979 Khomaeni tiba di Iran, disambut hangat berjuta-juta rakyat Iran sebagai pemimpin revolusi.

KHOMAENI DAN BEBERAPA PERTANYAAN
Jarang sejarah memunculkan pribadi seperti yang dimiliki Ayatulloh Khomaeni. Seorang ayatulloh yang memberikan kesan bertentangan satu sama lain sekaligus : perwujudan kebebasan dan kemerdekaan bagi bangsanya. Perlambang teokrasi yang menakutkan dengan prospek tak manusiawinya bagi bangsa-bangsa lain, simbol keberanian moral untuk menegakkan sosial secara tuntas, filosof, penegak sebuah "kerajaan Tuhan".

Berbeda dengan "tokoh-tokoh polos" dalam sejarah seperti George Washington dan Gandhi, kebesaran Khomaeni terletak pada kesimpangsiuran yang ia timbulkan dalam benak umat manusia. Bagaimana mungkin pemimpin agama yang begitu gigih melawan despotisme monarki Pahlevi lalu dengan mudah mengutuk musik ? Bukankah ini justru despotisme yang lebih dahsyat lagi bagi masyarakat moderen yang sudah menjadi hedonistis ? Untuk itu sebenarnya pertanyaan yang harus kita jawab adalah : dapatkah kita mengetahui dan memahami siapa Khomaeni yang sebenarnya ?

Kesulitan memahami hakikat diri Khomaeni adalah ketidakjelasan suasana pemerintahan di Iran setelah tumbangya pemerintahan Sahpur Bakhtiar dan terbuangnya Syah Muhammad Reza Pahlevi. Benarkah PM Mehdi Bazargan yang mengendalikan kehidupan bernegara sehari-harinya ? Kalau tidak, dan kalau Khomaeni yang memerintah secara nyata, bagaimanakah menyatukan perbedaaan kebijakan antara mereka ? Kalau bukan kedua-duanya lalu siapakah pihak ketiga yang melaksanakn pemerintahan itu ? Mengapakah kebijakan yang dibuat Bazargan hari ini dengan mudah saja lalu dibatalkan oleh Khomaeni keesokan harinya ? Mengapakah seakan-akan ada pemerintahan bayangan yang lebih berkuasa dari kabinet yang toh diangkat sendiri oleh Khomaeni ? Dapat ditambah lagi belum jelasnya kebijakan yang menyangkut kehidupan perekonomian. Apakah dikelola oleh para Mullahkah atau manager yang memiliki kompetensi berusaha ?

Dengan memandang sudut pengakuan dan pengenalan atas identitas pribadi Khomaeni dan atas peranannya dalam kehidupan bangsa Iran maka tidak terlalu sulit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Mereka yang mendukung pandangan keagamaan Khomaeni berpendapat bahwa Khomaeni telah membawa moralitas yang berdimensi sosial yang paling mendasar, moralitas yang berwatak politik, seperti Marxisme juga merupakan moralitas yang berpolitik. Tepatlah kalau Michael Foucault mengatakan perekembangan protes keagamaan yang berwajah politik itu dengan sebutan " Spiritualite Politique", kerohanian yang yang berdimensi politik.

Pesan Khomaeni yang sering dikutip menjelaskan dengan pasti bahwa tujuan revolusi adalah merebut kembali kekuasaan faqih yang telah hilang dan dalam pada itu memperbarui dan membentuk kembali fungsinya di dalam masyarakat. Peranan yang diberikan Khomaeni kepada faqih benar-benar bersifat revolusioner, tidak hanya hubungannya dengan Iran Pahlevi tetapi terutama sekali dalam hubungannya dengan teori politik Syi'ah Imamiyah. Dalam pandangan Khomaeni faqih adalah sekaligus penafsir hukum Islam dan satu-satunya penguasa politik yang absah di dalam masyarakat pada waktu imam masih "bersembunyi". Ia menegaskan bahwa dalam Islam hanya Tuhan sajalah yang menentukan hukum. Nabi dan kemudian para Imam adalah pelaksana yang menjalankan hukum Tuhan itu. Di masa "Imam masih bersembunyi" fuqohalah yang melaksanakan tugas mereka.

Berbeda dengan Ali Shariati yang berseberangan pendapat dengan Khomaeni. Ali Shariati membedakan antara "faham syi'ah murni" yang membebaskan, berorientasi ke masa depan, progresif dan agama reaksioner dari "kaum agama resmi" yang bobrok, menindas dan haus kekuasaan. Shariati juga menggambarkan tipu daya dari "kaum ulama resmi yang berjenggot panjang" sebagai sumber kejahatan utama yang telah menjangkiti massa selama berabad-abad. Ia mengemukakan bahwa Islam tidak mengenal perantara antara manusia dan Tuhan. Karena itu adanya kelas kaum agama yang bernama ruhaniyyun adalah tidak Islami.

PERKEMBANGAN IRAN
Baru lewat setahun Revolusi Islam, pada 20 September 1980 Iran terlibat perang dengan Irak hingga delapan tahun lamanya. Selepas perang ini, hubungan Iran dengan negara-negara Arab dan Amerika Serikat memburuk. Kondisi ini diperparah oleh wafatnya pemimpin revolusi dan tokoh spiritual Iran, Khomeini pada 4 Juni 1989. Untuk mencegah konflik politik sepeninggal Khomeini, Ali Khamenei segera diangkat sebagai Vali E Faqih (Pemimpin tertinggi bidang agama dan politik) menggantikan kedudukan Khomaeini.
Sampai tahun 1992, gagasan pembaruan dan keterbukaan masih termasuk isu sensitif di Iran. Bahkan Menteri Kebudayaan Mohammad Khatami dipaksa mundur oleh kaum konservatif yang mendominasi parlemen. Ia dituduh gagal membendung invasi kebudayaan Barat dengan membiarkan masuknya film, drama dan buku, yang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya Iran.

Dalam sistem pemerintahan Wilayatul Faqih di Iran, juga dikenal eksekutif, legislatif dan yudikatif. Kepala pemerintahan dijalankan oleh eksekutif dipimpin seorang presiden. Pemilu dilakukan empat tahun sekali untuk memilih 290 anggota Majelis (legislatif). Pada pemilu tahun 2000, Iran memasuki babak baru dengan sistem multipartai. Sebelumnya, pemilu Iran hanya diikuti tiga kontestan yaitu Majma'e Rouhaniyoun Mobarez, Jame'e Rouhaniyat Mobarez dan Partai Pelaksana Pembangunan.

Pada pemilu tersebut, Mohammad Khatami memenangkannya dan menjadi presiden Iran. Kemenangan Khatami dianggap sebagai kemenangan reformasi Iran. Oleh Barat, Khatami dipandang lebih kooperatif dibandingkan para pendahulunya. Selama kampanye Khatami mengangkat isu-isu "kontroversial". Diantaranya penegakkan HAM, hak-hak wanita, pluralisme, budaya, toleransi dan demokratisasi. Semua ini belum pernah dibicarakan secara terbuka oleh presiden atau calon presiden sebelumnya. Ia juga menjanjikan akan menjalankan politk détente (peredaan ketegangan) dengan seluruh negara di dunia yang bersedia menghormati Iran. Ini sangat positif dalam pemulihan hubungan diplomatik Iran dengan negara-negara Barat.

Namun Khatami dinilai gagal dalam memulihkan ekonomi Iran. Indikasinya, kurs rial Iran terhadap dolar AS terus melemah. Pada 1980-an, satu dolar AS setara 500 rial Iran. Kini 1.755 rial Iran per dolar AS. Bahkan di pasar gelap, nilainya hanya 8.300 rial per dolar AS.

KESIMPULAN
Untuk memahami sosok Ayatulloh Ruhulloh Khomaeni kita tidak lepas dari didikan Khomaeni diwaktu kecil, pendidikannya sebagai teolog, terhinakannya ulama oleh pemerintahan Pahlevi, matinya Islam sebagai kekuatan dunia, semuanya itu berpengaruh pada pemikirannya.
Revolusi Iran (1978-1979) seringkali dianggap sebagai lambang kebangkitan Islam dan kaum Muslimin dalam menghadapi musuh-musuhnya, baik dari dalam maupun dari luar. Tetapi bagi para pembaca di Barat, "kebangkitan" seperti itu menandakan berakhirnya zaman modernisasi dan kemajuan di Iran karena pimpinan baru bangsa itu bertujuan "membalikan arah jarum jam".Bagi mereka Islam berarti pemuka-pemuka agama fundamentalis yang berjubah hitam dan memakai sorban. Para penguasa agama di Iran tampaknya membenarkan anggapan ini. Pandangan monolitik tentang revolusi Iran juga menggambarkan kesalahpahaman tentang Islam dan sejarahnya yang dilestarikan penelitian ilmiah di Barat dan juga oleh orang-orang Islam sendiri yang tidak mempunyai pengetahuan luas.

Dengan demikian seringkali dikemukakan bahwa ulama dari abad ke abad telah menjadi satu-satunya juru bicara Islam dan mereka ini selalu merupakan suatu kelas tersendiri yang dipandang dari segi sosial dan ideologi kelompok yang terpadu. Pandangan-pandangan seperti itu harus diluruskan apabila kita ingin memahai arti sepenuhnya dari revolusi yang terjadi Iran.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ali Rahnema, Para Perintis Zaman Baru Islam, Bandung, Mizan, Cet. III, 1998.
  • Khomaeni, Ayatulloh Ruhullah, Shahife-ye,jilid 2,Teheran, Vezarat-e Ersyad-e Eslami, 1982,hal : 46 dalam ParaPerintis Zaman Baru Islam, Ali Rahnema.
  • John L. Esposito, Identitas Islam Pada Perubahan Sosial Politik, Jakarta, Bulan Bintang, Cet. I, 1986.
  • Abdurrahaman Wahid, Tuhan Tak Perlu Dibela, Yogyakarta, LKiS, Cet II, 2000.
  • Tim CIMM, Membangun Dialog Peradaban, Bandung, Mizan, Cet I, 1998.
  • Azumardi Azra, Dialektika Perubahan Iran









0